Sponsor

WHAT'S NEW?
Loading...

Aku dan keluarga Semuku

Aku dan keluarga Semuku

"Diawal bulan lalu, aku bertemu dengan orang-orang yang memang baru ku kenal bahkan mungkin aku baru melihat rupa wajahnya. Aku bertemu dengan mereka dalam balutan kegiatan Kampung Bidikmisi Generasi Ke-8 yang dilaksanakan oleh Forum Bidikmisi Universitas negeri Jakarta."

Sebagai mahasiswa peraih beasiswa Bidikmisi aku diwajibkan mengikuti kegiatan itu, karena sesuai perjanjian penerima beasiswa Bidikmisi pada awal penerimaan mahasiswa baru. Kegiatan Kampung Bidikmisi atau biasa disingkat KBM ini sebenarnya merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baru penerima beasiswa Bidikmisi, tujuan kegiatan ini adalah sebagai wadah silaturahmi mahasiswa baru Bidikmisi dan untuk kaderisasi pengurus Forum Bidikmisi Universitas Negeri Jakarta.
Jujur diawal adanya kegiatan ini, aku begitu skeptis dan tak ada semangat untuk mengikuti kegiatan ini. Karena aku pikir kegiatan seperti ini hanya sekedar menghamburkan uang dan tidak bisa membuatku cerdas secara intelektual dan berpikir kritis, bahkan rasa skeptis itu makin memuncak ketika mendengar cerita-cerita soal KBM yang ribet dan membosankan dari kakak tingkat. Hal itu makin menyakinkan aku untuk mengikuti kegiatan ini hanya sekedar pemenuhan kewajiban saja dan tak ingin menunjukan potensi diri yang ku miliki di kegiatan ini.
Namun harapan hanya sekedar harapan, lagi-lagi Allah mempercayai aku untuk memimpin sebuah kelompok. Aku yang tergabung dalam kelompok 1 atau KK 1 (menggunakan Sistem Keluarga) ditunjuk untuk menjadi Bapak untuk mengatur anak-anaknya dari prodi dan jurusan yang berbeda. Rasa kesal dan jengkel ketika terpilih menjadi Bapak KK 1 satu muncul dibenakku, karena keadaan yang memaksaku terpilih menjadi Bapak, dari 5 orang pria di kelompok itu hanya aku yang datang untuk mengikuti Briefing 1 kegiatan KBM.
Apalagi ketika aku melihat perlengkapan dan penugasan kelompok maupun individu yang begitu banyak dan agak menyulitkan, rasa ku ingin protes pada panitia dan menyuarakan bahwa seharusnya Forum beasiswa itu harus membuat kegiatan yang lebih poduktif bukan cuman soal kumpul-kumpul dan kaderisasi organisasi karena itu hanya menghasilkan sesuatu yang pragmatis.
Tapi seperti kata Qiftia dalam chat grup RT 1, dia mengatakan bahwa Allah tidak pernah salah memilih pundak seseorang untuk memimpin, Allah membuka cara berpikir aku tentang kegiatan ini setelah selama 3 hari aku mengikuti kegiatannya. Seolah ditepar yang merasakan rasa sakit tapi tak terlihat wujudnya, selama 3 hari aku dalam kegiatan ini seolah menjadi seorang Didit Handika yang baru, yang bisa menempatkan diri dimana harus kritis, melucu bahkan harus rela-rela melakukan berbagai kegiatan.
Selama tiga hari itu aku bersama orang-orang yang baru kenal,  bahkan rupa wajahnya ada yang baru ku lihat saat itu. Ketika aku ditugaskan menjadi Bapak, aku belajar bagaimana harus ku kenali dulu karakter teman-teman anggota kelompok yang nantinya menjadi anak-anak semu dari keluarga semuku. Awalnya memang ku sering berdebat dengan mereka tapi ku sadar bahwa berdebat dengan nada ingin menguasai mereka hanya akan menghasilkan kebencian padaku, dari mereka ku belajar menghargai pendapat orang dan mengapresiasinya meskipun sebenarnya ku memiliki konsep yang menurutku lebih baik. Tak hanya itu, dalam kegiatan ini pula aku mengetahui arti kata ikhlas yang sesungguhnya, aku melihat seorang Raven mahasiswa Fakultas Ilmu Olahraga yang selalu dengan rajin tanpa mengeluh untuk selalu mengambil air dan merapihkan bivak untuk KK 1, aku pula melihat begitu ikhlasnya kak tri menjadi fasil dalam kegiatan ini, meskipun kita KK satu kerap kali menjengkelkan tapi dia coba tetap tersenyum santai dan selalu mengajak kita dengan cara lembut meskipun sejujurnya dia lelah dan ingin beristirahat.
Ada dua lagi orang yang bagiku membuka pikiranku juga yaitu Rama mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab dan Siti Maryam mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan. Mereka berdua adalah sosok yang memberikan keasadaran bahwa dekat dengan Allah bisa dimana saja meskipun ada kegiatan di dunia yang merepotkan kita tapi mereka urusan dengan Allah tetap yang paling utama, Rama adalah orang yang selalu menegurku ketika untuk menghentikan kegiatan dan bergegas pergi untuk sholat ketika waktunya sudah dekat, dia pula juga selalu menyempatkan waktunya untuk membaca Al-Qur’an. Begitu pula seorang Siti Maryam, selama 3 hari hampir setelah sholat dia selalu berusaha menyempatkan waktunya untuk membaca Al-Qur’an. Dari mereka berdua aku sadar sebanyak-banyaknya buku pemikiran, sejarah dan sosial yang ku baca akan tetap kalah dengan orang-orang yang selalu mendekatkan dirinya dengan sang pencipta karena mereka yakin ketika kita hanya bersandar kepada teori manusia itu, tidak ada yang absolut beda dengan Allah yang maha kuasa dan mengetahui segala urusan hambanya.

            Allah memang memberikan sebuah hikmah dalam setiap aktivitas yang kita lakukan di dunia ini, meskipun lelah mengikuti kegiatan KBM insyaallah menjadi lilah ketika kita ikhlas menjalankannya. Meskipun aku tidak menceritakan satu-satu keluarga semuku tapi aku belajar banyak dari kalian, sungguh kalian menjadi tempat pertamaku belajar agar bisa dengan cerdas menempatkan daya kritisku agar bisa dengan mudah diterima dilingkungan baru, kalian jugalah yang mengajarkan makan dengan daun jati yang penuh kesederhanaan. Tapi lebih penting kalian mengajarkan sesuatu sangat berharga bagiku, yaitu menjadi pemimpin bukan melulu soal mampu mengatur orang lain, tapi menjadi pemimpin adalah menjadi seorang pendengar dan penghibur yang baik dikala anggotanya jenuh dengan rutinitas yang membosankan. Terima keluarga semu, semoga kita bertemu dan berkumpul kembali dikala senja menanti malam datang untuk mewarnai hari-harinya dengan penuh cahaya bintang.

0 komentar:

Posting Komentar