Oleh Didit Handika
Judul : Belenggu Ilmuwan Pengetahuan
dari Hindia Belanda Sampai Orde Baru
Penulis : Andrew Goss
Penerbit :
Komunitas Bambu
Tahun Terbit : 2014, Cetakan pertama
Tebal Buku : xvi+348 hlm;15,5 x 24 cm
Buku
karya Andrew Goss merupakan sebuah studi secara komprehensif yang coba
memaparkan tentang sejarah ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi di
Indonesia sejak masa Kolonial sampai masa Orde Baru. Andrew Goss menggagas
untuk menulis buku ini karena ia membaca manuskrip-manuskrip tentang
perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia pada masa kolonial di University of
Michigan 1997. Dari bacaan tersebut ia memulai melakukan penelitian dan menghasilkan
sebuah hipotesis yang menyatakan bahwa kegagalan era pencerahan Indonesia menjadi kunci dalam memahami sejarah ilmu
pengetahuan dan politik pengetahuan di negara Indonesia modern.
Dalam
buku ini Andrew Goss dengan sangat baik menyampaikan fakta-fakta tentang
belenggu kekuasaan dalam ilmu pengetahuan yang saling bergandengan dari masa
Hindia Belanda sampai masa Orde Baru. Diawali dengan gambaran kekayaan alam
Indonesia yang tumpah ruah, membangkitkan para naturalis dan penjelajah Eropa
untuk datang ke Indonesia dengan tujuan yang beragam dari mulai mempelajari
alam Indonesia sampai menguasai wilayah Indonesia dengan kolonialisme. Proses
kolonial yang terjadi pada tahun 1830 merupakan titik awal dimulainya belenggu
ilmuwan pengetahuan oleh pemerintah Hindia Belanda di Indonesia, berbagai cara
dilakukan oleh pemerintah kolonial untuk mendapatkan keuntungan yang besar dari
negara koloni. Termasuk dapat mengetahui kondisi alam di negara koloni, agar
mempermudah pemerintah kolonial dalam melakukan kebijakan yang menguntungkan
perekonomian dan pengetahuan ilmiah orang-orang Eropa. Untuk mengwujudkan hal
tersebut pemerintah kolonial mempekerjakan para ahli naturalis alam atau yang
disebut oleh Andrew Goss sebagai apostel naturalis dari Eropa, para apostel naturalis
dipekerjakan secara birokratis oleh pemerintah kolonial untuk membantu
mengetahui dan mengembangankan tanaman serta ilmu pengetahuan yang cocok di
negara koloni agar tercapai tujuan Partai Liberal Belanda pada masa itu.
Hal
itu memicu hasrat para apostel professional atau naturalis untuk memulai
kembali melembagakan komunitas ilmu pengetahuan yang ada di negara koloni
dengan membentuk Bataviaaach Genootschap der Konsten en Wetenschappen (Kelompok
Seni dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat Batavia) pada akhir 1830-an. Berbagai
usaha oleh komunitas ini lakukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan serta
memasyarakatkannya, agar tercipta masyarakat yang madani. Komuntas ini pula
berhasil menyelenggarakan sebuah pameran pada 1853 merupakan peristiwa besar,
tetapi tidak membangkitkan terjadinya pelembagaan pencerahan dan tanpa adanya dampak
jangka panjang. Namun, dalam perkembangannya ilmu peng etahuan yang
dilegitimasi oleh pemerintah kolonial menjadikan tokoh-tokoh seperti Junghun,
P. Blekeer dan para apostel lainnya hanya bekerja sebagai pegawai kolonial
dalam proyek-proyek penelitian negara, seperti proyek aklimatisasi tanaman chichona atau kina, sebagai komoditi
bahan ekspor yang bernilai tinggi karena berguna untuk menyembuhkan penyakit
malaria. Meskipun pada dekade 1900-an. Perkembangan ilmu pengetahuan berkembang
pesat melalui pengelolaan Kebun Raya Bogor oleh Machielor Treub, karena
dijadikan sebagai tempat fantasi penelitian dan laboratorium herbarium yang
sangat lengkap pada masa itu, sehingga banyak peneliti dari Eropa yang
berbondong-bondong datang ke Hindia Belanda.
Setelah
pergantian era, para apostel profesional pribumi lahir dengan organisasi Boedi
Oetomo pada 1908 sebagai penanda awal kelahirannya. Dengan adanya hal tersebut,
memicu ilmu pengetahuan Indonesia semakin berkembang pada tahun 1950, para
ilmuwan Indonesia menghidupkan kembali organisasi-organisasi riset kolonial,
tetapi dengan tujuan kepentingan dalam negeri Indonesia. dari dalam Kebun Raya
Bogor, mereka bergerak pada proses pengembangan professional ilmu pengetahuan.
Hal ini berhasil mereka lakukan tanpa campur tangan pemerintah hingga tahun
1959 ketika dimulainya ototitarianisme Revolusioner Demokrasi Terpimpin oleh
Soekarno. Pada tahun 1960-an, negara lebih berperan dalam membetuk corak ilmu
pengetahuan, khususnya melalui pendidikan dengan ideologi nasionalisme. Beberapa
ilmuwan diuntungkan dari perubahan posisi politik mendekati pola ototarianisme.
Para ahli biologi di Bogor menganggap negara adalah figur yang konsisten. Mereka
juga menyamakan tujuan ilmiah mereka dengan ideologi nasionalis pemerintahan
Orde Baru Presiden Soeharto.
Kenyataan tersebut meyakinkan bahwa konsep
Floracrat yang disampaikan Andrew Goss memang benar adanya, karena bila pun
para ilmuwan profesional mulai membangkitkan kemungkinan memimpin dan
menciptakan masyarakat madani, negara selalu mengambil kesempatan itu dengan
menugaskan mereka sebagai birokrat purna waktu, terlebih semua agenda
penelitian mereka bisa diatur oleh negara. Ilmu pengetahuan memang alat negara,
tetapi secara lebih luas justru negara menyerap ilmu pengetahuan, ilmuwan, dan
metode ilmiah. Sejak 1840, ilmu pengetahuan Indonesia masa kolonial dan pascakolonial
tidak pernah kekurangan ilmuwan-ilmuwan yang arif, ambisius dan inovatif.
Banyak dari mereka yang dengan mahir mengendalikan antara dunia ilmu
pengetahuan global dan konteks budaya kolonial juga nasional tempat mereka
bekerja. Akan tetapi, secara keseluruhan mereka gagal menempatkan diri mereka
sebagai pionir masyarakat madani yang mampu menghubungkan jarak antara warga
negara di satu sisi dan negara di sisi yang lain, kapan pun eranya. Ilmu
pengetahuan tetap menjadi konsumsi kaum elite yang terkadang dikerjakan dengan
penuh minat dan bakat, tetapi tidak mampu melebihi pagar tinggi yang
mengelilingi Kebun Raya Bogor.
Kelebihan buku ini disajikan dengan
sudut pandang yang berbeda dari buku tentang sejarah ilmu pengetahuan dan
teknologi yang terjadi di Indonesia, penggambaran yang apik dilakukan oleh
Andrew Goss dengan menjelaskan kegagalan upaya para apostel profesional untuk
memimpin dan menciptakan masyarakat yang madani menjadikan karya ini sebuah
studi kritis akan belenggu ilmu pengetahuan yang terjadi di Indonesia pada saat
ini. Akan tetapi kekurangan dari buku ini adalah banyaknya Andrew Goss
menciptakan kata-kata baru kerap kali membuat pembaca bingung dalam memahami
arti kata yang dijelaskan dalam buku ini.

0 komentar:
Posting Komentar